| Catatan Ringkasan |
Buku ini mengisahkan bahawa tidak semua kisah cinta bermula daripada perkenalan secara langsung, sebaliknya ada yang bermula daripada sekeping ayat di papan tulis.
Tahun 1995, di sebuah SMA di Bandung, Nana bertemu Barnasa, seorang siswa pendiam yang gemar menulis kalimat-kalimat pendek di papan tulis kelas dan tembok-tembok kota dengan kapur tulis. Meski jejak-jejak kapur itu mudah terhapus, kalimat-kalimat Barnasa justru melekat kuat di benak Nana.
Semakin banyak Nana menemukan tulisan Barnasa, semakin besar keinginannya untuk mengenal sosok di balik kata-kata itu. Hingga akhirnya, Nana menemukan kenyataan bahwa orang yang selama ini dia cari, ternyata tidak pernah benar-benar jauh darinya.
Pidi Baiq mengaku sebagai imigran dari surga yang diselundupkan ke bumi oleh ayahnya di kamar pengantin dan tegang. Di bumi, kemudian menjadi Imam Besar The Panasdalam. Menulis buku Dilan, Drunken Molen, Drunken Mama, Drunken Marmut, Al-Asbun, At-twitter, Hanya Salju dan Pisau Batu, Asbunayah, Helen dan Sukanta, Ancika, Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu, Dilan 1983, dan Dilan ITB 1997. Membuat akun Instagram dan Twitter (X) dengan nama @pidibaiq dan tidak suka jus rumput. Pernah lapar, pernah ngantuk, tapi alhamdulillah semuanya bisa diatasi. |